BACK TO LIST

Makanan Indonesia adalah “warung” di Brisbane, Queensland, Australia, untuk lidah-lidah yang rindu pulang itu.
———————
DOAN WIDHIANDONO, Brisbane
———————
“Ayo, sanaan dikit! Masak duduk jauh-jauhan gini!” ujar Mie Mie Wing Kie, pemilik restoran Makanan Indonesia, kepada rombongan empat wartawan Indonesia yang mengunjungi Brisbane, Queensland, atas undangan Tourism Australia dan Tourism and Events Queensland, 28 Mei-3 Juni lalu.

Kami pun bergeser merapat ke meja yang terletak di dekat pintu restoran di Hardgrave Road, Brisbane, itu.

Makanan Indonesia memang sebuah restoran. Namun, suasananya begitu welcoming. Hangat. Rasanya, lantaran keintiman dan kehangatan pelayanannya, restoran itu lebih pas disebut warung. Lebih humble, lebih bersahaja, dan lebih at home.

Kesederhanaan itu tampak pada desain interior restoran, eh, warung tersebut. Meja-mejanya terbuat dari kayu telanjang yang masih tampak serat-seratnya. Tidak seperti restoran lain, di meja itu tidak ada serbet dan sendok-garpu yang ditata di masing-masing meja. Sendok-garpu ditaruh di sebuah wadah di ujung meja. Pengunjung mengambil sendiri sendok-garpu kalau hendak makan. Persis di rumah makan padang atau warung tegal.

Dinding restoran Makanan Indonesia berhias dekorasi sederhana. Beberapa hiasan wayang golek ditempelkan di dinding yang bercat putih polos. Satu-dua kertas karton putih dengan tulisan spidol warna-warni juga menghiasi dinding. Salah satu berbunyi: Live Music, Friday & Saturday Evening; Indonesian & Other Songs; Performed by Mono on Keyboard.

Di kaca depan, tertempel karton putih dengan tulisan menarik. Yakni, beberapa kata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia plus terjemahannya. Isi “kamus dinding” itu, antara lain, angka 1-10 dalam dua bahasa, Indonesia-Inggris. Lalu “apa kabar-how are you”, “apa itu-what is that?”, “berapa-how much”, “lapar-hungry”, dan “pedas-spicy/hot taste”.

“Kalau kamu, harus belajar menghafal kata cepat,” kata Prisca Hoo dari Tourism Australia kepada Melissa Webster, promotion and trade events coordinator Tourism Queensland.

Memang, kunjungan wartawan Indonesia ke Brisbane dan Gold Coast harus menyinggahi tidak kurang dari 16 kegiatan kepariwisataan dalam waktu efektif lima hari. Karena itu, kata-kata “cepat” atau “hurry-up” seakan-akan sudah menjadi doktrin ketika rombongan akan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Mie Mie bukan tanpa maksud menempelkan “kamus dinding” tersebut di warungnya. “Itu agar orang sini sedikit-sedikit belajar bahasa Indonesia,” kata perempuan kelahiran 1955 itu sembari menyorongkan menu pembuka: tahu goreng plus saus bumbu kacang. “Kalian pasti kangen tahu goreng kayak gini, kan?” sambungnya.

Rasa tahu bikinan Mie Mie memang sip. Masih hangat dan rasanya pas di lidah. Bukan cuma rasanya yang bikin maknyus. Tapi, kehangatannya seolah bisa melawan hawa dingin Brisbane yang siang itu sedang didatangi mendung dan hujan.

Tidak perlu menunggu lama untuk datangnya menu utama. Mie Mie memasak buaaanyak sekali untuk kami. Ada cooked mixed vegetables-boiled egg served with peanut sauce & prawn cracker. Terjemahannya, aneka sayur matang dan telur disiram saus kacang plus kerupuk udang. Ya, tak lain dan tak bukan, ini gado-gado! Di daftar menu, harganya AUD 11,5 atau sekitar Rp 105 ribu per porsi.

Ada lagi ayam goreng kalasan (marinated fried chicken), fuyunghai (Indonesian omelet with mince chicken, prawn and vegetable tapped with sweet-sour sauce), dan cah kangkung (stir fried water spinach). Nasinya pulen dan wangi yang dihidangkan di sebuah bakul yang terbuat dari anyaman bambu. Aroma nasinya sangat khas. Sangat ndesani. Benar-benar komplet menu makan siang itu.

Yang tertulis pada daftar menu restoran Makanan Indonesia sejatinya jauh lebih banyak. Semua ditulis dengan dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Misalnya, berbagai jenis sate, aneka mi dan kare, asinan, udang dan ikan asin, hingga es degan.

“Kalau mau minta dimasakin petai, jengkol, atau ikan asin, juga bisa lho,” ujar perempuan beranak tiga tersebut.

Mie Mie bercerita bahwa usaha restorannya itu sudah dijalankan selama enam tahun. “Cukup laris juga,” ungkap perempuan yang hijrah dari Jakarta pada 1977 itu.

Saat pindah ke Australia, dia menuju Darwin. Di kota itu, dia bekerja keras hingga akhirnya bisa menjadi pegawai negeri sipil. Mie Mie lantas pindah ke Brisbane pada 2001.

“Yang datang (ke Makanan Indonesia) bukan orang Indonesia yang kangen rumah saja, lho,” ujarnya.

Banyak pula warga Australia yang mencicipi masakannya. Biasanya mereka pernah ke Indonesia, rindu masakan Indonesia, atau orang-orang yang ingin menjajal menu kuliner dari negara lain. Selain itu, para mahasiswa atau warga keturunan Timur Tengah yang ingin merasakan makanan khas Indonesia.

Sejatinya, jualan utama Makanan Indonesia bukan semata-mata masakan bercitarasa Nusantara. Yang membuat warung itu kerap menjadi jujukan adalah kehalalannya. Ya, seluruh menu di Makanan Indonesia halal.

Itu juga tecermin pada logo halal yang dikeluarkan lembaga sertifikasi halal Australia di kertas menunya. Sama sekali tidak ada campuran daging bahkan minyak babi atau kandungan non-halal lain.

Untuk menjamin standar halal itu, Mie Mie tidak mau sembarangan membeli daging. Dia hanya membeli daging langsung pada butcher (jagal) yang juga menerapkan prinsip halal. “Butcher-nya orang Arab,” terang perempuan yang menjalankan usaha bersama kakak-kakaknya tersebut.

Mie Mie mengaku tidak sulit mendatangkan bahan-bahan mentah untuk memasak. Aneka sayur dan bumbu tersedia di Australia. Di sebelah restoran Makanan Indonesia ada toko milik orang Vietnam yang juga menjual berbagai sayur serta bumbu khas Asia. Beras pun bisa mudah didapat.

“Kalau petai, saya pakai petai Thailand. Mereka impor banyak. Kalau terasi, pakai terasi Indonesia, dong,” tutur Mie Mie.

Yang agak sulit, kata dia, justru ikan asin. Harganya cukup mahal. Per kilogram bisa dibanderol AUD 20 atau sekitar Rp 184 ribu. Bandingkan dengan daging sapi yang harga per kilonya hanya separo ikan asin. Memang, para bule lebih senang ikan asin dibanding daging sapi. “Nggak tahu, mereka suka banget,” ujarnya.

Maklum bila harganya jadi mahal. Apalagi, bila musim dingin (winter), ikan asin sangat sulit didapat.

Mie Mie bilang, hanya ada dua restoran di Brisbane yang disebutnya benar-benar Indonesia. Selain Makanan Indonesia, ada Jakarta Indonesian Restaurant di Brunswick Street. “Yang lain, banyak yang palsu, hahaha,” katanya lantas tertawa.

Dia menambahkan, banyak restoran yang mengaku menjual makanan Indonesia, tapi kenyataannya menyajikan menu khas Melayu atau masakan Thailand.

Dengan spesifikasi khusus masakan Indonesia itu, Mie Mie menyatakan optimistis akan kelangsungan warungnya tersebut. Kendati begitu, dia masih perlu mempromosikan lewat internet dan media sosial Facebook. Situs pencarian Google pun langsung merujuk pada rumah makan milik Mie Mie setiap pengakses mencari dengan kata kunci “masakan Indonesia di Brisbane”

Sumber : http://www.gulalives.co/2015/12/01/makanan-halal-di-australia/