24/07/2017 03:22 am

Manusia Dalam Sudut Pandang Islam

BACK TO BLOG

Susilo

Paradigma keilmuan selalu dibangun di atas asumsi-asumsi dasar tertentu. Hal ini terutama mengacu pada poin-poin yang sangat sulit dibuktikan secara empirik dan diterima oleh semua ilmuan. Evolusi vs penciptaan misalnya, melahirkan perdebatan abadi pada beberapa kalangan sehingga banyak yang akhirnya mendiamkan. 

Dalam tradisi ilmu pengetahuan yang menegasikan Tuhan, orientasi kehidupan hanya terbatas pada fase kelahiran-kehidupan-kematian. Memang ada kajian ilmiah tentang mempersiapkan kelahiran yang berkualitas, tapi sulit sekali menemukan kajian tentang apa yang terjadi paska kematian. Nah, dalam tradisi agama, termasuk Islam di dalamnya, pandangan kehidupan manusia tidak hanya dibatasi oleh episode kematian, melainkan juga apa yang akan terjadi setelah kematian itu. Poin terakhir inilah yang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam berbagai pengambilan keputusan dlm hidup, termasuk hal-hal yang terkait dengan keluarga, karir, pendidikan, bisnis, dan lain sebagainya.

Dalam Kitab Suci, manusia direpresentasikan oleh banyak terminologi, mulai dari Insan, Naas, Basyar, hingga Bani Adam. Saya memiliki keyakinan bahwa tidak ada satu kata atau bahkan satu huruf pun dalam Al Quran yang sia-sia atau tidak memiliki makna, oleh karenanya setiap term yang merujuk pada manusia tersebut tentu mengandung penekanan makna yang berbeda. Naas dan Insan misalnya, berakar dari kata yang sama yaitu uns, yang bermakna jinak dan jelas. Menghasilkan kata turunan nisyaan yang bermakna lupa. Hal ini mengingatkan saya pada satu ungkapan bahwa Al Insaanu mahalul khotho' wan nisyaan, manusia adalah tempatnya kesalahan dan lupa. 

Tidak akan pernah cukup usia kita untuk memahami manusia secara utuh dan sempurna. Setiap pemahaman baru yang kita serap dari pengalaman maupun proses belajar pasti akan ditantang oleh pertanyaan-pertanyaan baru yang membuat kita menyadari bahwa usia tak akan pernah cukup untuk berusaha memahami manusia secara menyeluruh.

Saya ingin membatasi perbincangan ini pada dua term yang ada dalam AlQuran terkait fungsi atau mungkin 'evolusi' manusia, abdullah dan khalifatullah. Fungsi abdullah direpresentasikan oleh ayat wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya'buduun, dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Poin-poin yang dapat saya tadabburi dari ayat tersebut adalah bahwa: penghambaan bukan hanya domain manusia, melainkan juga selainnya, yang direpresentasikan oleh jin pada ayat tersebut. Oleh karenanya, saya meyakini bahwa setiap detak dan episode kehidupan manusia adalah wujud penghambaan. Bunga yang mekar dan gugur pada musimnya, harimau yang mengejar dan mencabik-cabik mangsanya, juga manusia yang menjalankan aktivistas hariannya adalah bentuk peribadatan kepada Allah. Oleh karenanya, dalam terminologi agama kita mengenal pembagian antara ibadah yang sifatnya makhdah (top-down) dan ibadah yang sifatnya muaamalah. 

Fungsi yang kedua adalah khalifatullah, kata dasarnya adalah 'yang dibelakang' atau 'yang menggantikan'. Inilah fungsi manajerial dan pengorganisasian terhadap kehidupan sebagai konsekuensi anugerah akal yang membedakan manusia dengan binatang dan tumbuhan. Fungsi kekhalifahan menuntut proses berpikir dan berijtihad dengan berorientasi pada output kehidupan sebagaimana dikehendaki Allah atas kehidupan manusia. Mewujudkan masyarakat yang damai dan adil, lingkungan yang bersih dan tertata, relasi manusia dan teknologi yang positif, memerlukan kerja akal yang dilandasi oleh semangat dan nilai bahwa manusia adalah khalifatullah.

Disampaikan oleh Susilo Wibisono (PhD Student, UQ) di IMCQ Kuraby Hall, Brisbane, Australia pada Kuliah Shubuh 23 Juli 2017. 

 

Share This Post on :