Our -Story

The Indonesian Islamic Society of Brisbane (IISB) yang kita kenal sekarang ini tidak dapat dipisahkan dari peranan Bapak dan Ibu Iman Partorejo. Bahkan, Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia di Brisbane dan pasangan Muslim asal Jawa Barat yang telah menjadi warganegara Australia ini bak dua sisi dari sekeping mata uang. Betapa tidak, merekalah penggagas awal paguyuban yang kini beranggotakan ratusan warga Muslim Indonesia dari berbagai status dan latar belakang sosial ekonomi, budaya, pendidikan, kewarganegaraan, dan aliran politik ini. Mereka juga termasuk di antara para anggota IISB yang hingga kini aktif menyemarakkan berbagai kegiatan paguyuban ini. 

Bermula dari kekhawatiran mereka akan kelangsungan pengamalan nilai-nilai Islam putra-putri mereka yang tumbuh dan besar di lingkungan komunitas non-Muslim pada 1975, Bapak dan Ibu Iman mencoba mengatasi persoalan mereka dengan menghimpun beberapa orang tua Muslim yang menghadapi masalah yang sama. “Hal utama yang menjadi ‘concern’ kami saat itu adalah bagaimana anak-anak kami bisa belajar shalat dan mengetahui apa itu Islam dan apa tugas orang-orang Islam,” kata Pak Iman suatu kali.

Dengan tekad membara, para keluarga Muslim yang berhasil dihimpun pasangan ini memulai langkah-langkah dakwah melalui kegiatan pengajian dari rumah ke rumah. Di tengah berbagai keterbatasan sosial-ekonomi saat itu, para keluarga Muslim dari pasangan asli Indonesia maupun pasangan campur-bangsa ini berhasil mendapatkan beberapa relawan pengisi pengajian rutin mereka. Di antara para relawan di tahun 1970-an itu adalah Dr. Deliar Noer, Atok Muzhar dan Hasyim. Di tengah kesibukan masing-masing, Dr. Deliar Noer yang ketika itu bertugas di Universitas Griffith, Atok Muzhar dan Hasyim – keduanya tercatat sebagai mahasiswa Indonesia di Universitas Queensland (UQ) –tetap menyempatkan diri sebagai pengisi pengajian orang tua dan anak-anak yang diorganisir Bapak dan Ibu Iman dkk . “Jika mereka berhalangan hadir ke rumah kami, ya kami yang membawa putra-putri kami ke rumah mereka untuk diajar.”

Selain di rumah Bapak dan Ibu Iman di jalan Linfield, Mansfield, Brisbane, pengajian juga sering diselenggarakan di rumah keluarga Bapak Jamal Hur, Dr.Macmillan, dan Hinekkam. Yang terakhir ini adalah orang Belanda asal Batu Sangkar, Sumatera Barat, yang masuk Islam. Pada tahun 1970-an dan 1980-an, warga Muslim Indonesia yang memiliki mobil pribadi boleh dibilang langka. “Satu-satunya pemuda Indonesia yang punya mobil saat itu ya Hairul.” Menurut Pak Iman, pemuda yang kini pengusaha restoran bernama “Indonesian Tucker” inilah sukarelawan yang suka menjemputi satu per satu orang-orang dari tempat tinggal mereka ke tempat pengajian.

Sejak awal pembentukannya hingga memasuki tahun 1980-an, kelompok pengajian dari rumah ke rumah ini tidak memiliki struktur kepengurusan yang jelas. Yang pasti, sejak awal berdirinya, Bapak dan Ibu Iman didaulat para jamaah sebagai “pimpinan”. “Baru setelah saya merasa capai tahun 1986, kita mengadakan rapat yang diikuti jamaah pengajian untuk menentukan kepengurusan IISB. Ketika itu, susunan kepengurusannya terdiri dari ketua, wakil ketua dan bendahara,” tutur Pak Iman.

Terekam dalam ingatan beliau bahwa, selama periode kepengurusan sebelum tahun 1993 maupun periode setelahnya, Bapak Sudirman (pengurus Islamic Society of St. Lucia) dan Bapak Abdul Haris adalah diantara beberapa aktifis dakwah yang banyak aktif mengisi kegiatan dakwah di IISB.  Selama periode kepengurusan tersebut, kegiatan IISB masih bersifat “nomaden”. Baru setelah rektorat UQ menyediakan sebuah rumah di jalan 323 Hawken Drive (crn Upland Rd), Kampus St.Lucia, untuk difungsikan sebagai “mushalla” tahun 1993, periode “berpindah-pindah” ini berakhir. Sejak itu, berbagai kegiatan IISB pun dipusatkan di mushalla, termasuk pengajian rutin yang kerap dihadiri sekitar 20 hingga 40 orang setiap pekannya.Variasi, lingkup dan cakupan kegiatan pun bertambah, seperti tampak dari seksi-seksi yang ada dalam kepengurusan dan dinamika ummat. Hanya saja, satu hal yang tak pernah lekang dari tradisi IISB sejak awal berdirinya itu adalah keberlangsungan kegiatan dakwah tetap oleh, dari dan untuk anggotanya. Para pengisi berbagai kegiatan IISB, khususnya pengajian Jumat malam,pengajian anak-anak dan pengajian bulanan adalah para pengurus dan anggotanya sendiri. Prinsip “saling mengingatkan di jalan yang diridhoi Allah SWT” tampaknya menjadi tradisi IISB yang akan tetap hidup dan menjadikannya “sarana tarbiyah (pendidikan)” bagi sesama jamaah. Disamping itu, sepanjang sejarahnya, paguyuban ini pun memiliki catatan bersih di Australia.

Dengan izin Allah SWT, IISB tetap eksis kendati jumlah jamaahnya naik-turun setiap tahunnya. Orang-orang yang menerima amanah para jamaah untuk memimpin perhimpunan ini pun silih berganti. Setelah periode kepengurusan 1993, para pemegang amanah tersebut adalah As-Suharti Arief (1993-1994), Husni Jamal (1994-1995), Heru Suhartanto (1995-1996), Taufik Fauzi (1996-1997), Prihandoko (1997-1998), Sutopo Hadi (1998-1999),  Dwi Susanto (1999-2001), Jumatil Fajar (2001-2002), Hawin (2002-2003), Saipul Rahman (2003-2004), Rahmad Nasution (2004-2005) Sulistiyo Biantoro (2005-2006), Suseno Hadi (2006-2007), Mohammad Fauzi (2007-2008), Dedi Muhammad Siddiq (2008-2009), Eko Andi Suryo (2009), Medrilzam (2009-2010), Anjar Prayudi (2010-2011), Febi Dwirahmadi (2011-2013), Krishnamurti Suparka (2013-2015), Ardi Muawin (2015-2016), Krishnamurti Suparka (2015-2016), dan Yudi Suharto (2017-2018). Nakhoda terus berganti, namun “perahu” IISB harus terus berlayar.